Please wait... X

Pidato_Ketua_Umum Persatuan Indonesia Membumikan Pancasila

PDI Perjuangan, 10/Jan/2019

Persatuan Indonesia Membumikan Pancasila

Bergeraklah untuk semua cita-cita membumikan Pancasila. Kemenangan kita pada Pemilu 2019, bukan semata kemenangan PDI Perjuangan. Kemenangan PDI Perjuangan harus menjadi kemenangan rakyat dan bangsa Indonesia. Partai ini harus menang. Pak Jokowi harus terpilih lagi sebagai Presiden.

Demikian salah satu pokok pikiran penting pidato politik Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam peringatan HUT PDI Perjuangan ke-46 yang digelar di Jakarta, Kamis (10/1/2019). Pada kesempatan tersebut Ketua Umum memberikan potongan nasi tumpeng kepada Presiden RI Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI ke-6, Try Sutrisno, Wakil Presiden RI ke-9, Hamzah Haz, dan Calon Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin.

Untuk mengetahui pidato lengkap Ketua Umum Megawati Soekarnoputri silakan simak berikut ini.

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam Damai Sejahtera untuk kita semua,

Om Swastyastu,

Namo Buddhaya.


Yang saya hormati,

Bapak Presiden Republik Indonesia, Wakil Presiden Republik Indonesia, Menteri-Menteri Kabinet Kerja, tamu undangan, para Ketua Umum Partai, Tokoh Nasional, Tokoh Masyarakat, Agamawan, Akademisi, Budayawan, rekan-rekan media, terima kasih atas kehadirannya

Yang saya banggakan

Selamat datang kader-kaderku, kader PDI Perjuangan dari Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Pimpinan Cabang dan perwakilan Pengurus Anak Cabang dari seluruh pelosok tanah air, perwakilan Sayap Partai dari Banteng Muda Indonesia, Taruna Merah Putih dan Baitul Muslimin Indonesia.

Yang saya cintai, rakyat Indonesia dimana pun berada. Sebelumnya, marilah kita terlebih dahulu bersama-sama memekikkan salam nasional kita.

Merdeka !!!  Merdeka !!! Merdeka!!!

Puji Syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, PDI Perjuangan mampu melewati berbagai ujian sejarah. Empat puluh enam tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 10 Januari 1973, Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Kristen Indonesia (PARKINDO), Partai Katolik, Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) dan Musyawarah Rakyat Banyak (MURBA) melakukan fusi dengan nama Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Pada 1 Februari 1999, yaitu saat kongres kelima, PDI mengubah namanya menjadi PDI Perjuangan, yang berideologi Pancasila 1 Juni 1945.

Sejarah tersebut selalu saya sampaikan, agar partai ini memiliki ingatan kolektif dan komitmen tuntaskan tugas  sejarah. Dengan segala hormat, saya ucapkan terima kasih pada para senior partai yang hadir, yang terus membantu saya dalam menanamkan komitmen politik di partai ini. Komitmen yang terpenting dalam berpolitik adalah memegang teguh, menjaga dan menjalankan ideologi Pancasila 1 Juni 1945. Sejarah mendidik kita untuk tidak lupa bahwa partai ini didirikan bukan sebagai alat kekuasaan personal atau golongan. Partai ini dilahirkan, justru sebagai alat perjuangan, alat perjuangannya rakyat Indonesia untuk mewujudkan cita-citanya. Cita-cita yang terpatri dalam Pancasila, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Saudara-saudara

Sudah 46 tahun bendera banteng moncong putih dikibarkan. PDI Perjuangan mengalami pasang naik, tetapi juga pasang surut. Kita mengalami kekalahan dalam beberapa Pemilu. Contohnya, pada Pemilu tahun 2004 dan 2009. Tetapi, meskipun kalah dalam Pemilu, partai ini tidak memilih jalan pintas. PDI Perjuangan tidak terapkan strategi “asal comot calon legislator”, apalagi dari partai lain.  Partai ini tidak berkonsep “asal rekrut tokoh pendongkrak elektabilitas”, yang tujuannya asal tambah kursi DPR, asal lolos parlemen threshold, atau asal menang Pemilu. Memang, PDI Perjuangan adalah partai yang terbuka, terbuka bagi siapa saja. Siapa saja, apa pun latar belakangnya. Tetapi, pertama kali adalah harus berideologi Pancasila 1 Juni 1945. Pintu PDI Perjuangan selalu terbuka. Terbuka bagi siapa pun yang siap dan berani ditugaskan sebagai “The Guardians of Pancasila”, Penjaga Pancasila!”

Meskipun terbuka, tetapi saya tidak ingin partai ini diisi oleh kader karbitan atau orang yang mendadak kader pada saat Pemilu. Mengaku kader, namun jika tidak direkomendasi atau tidak terpilih, lalu loncat ke partai lain. Partai bagi kami bukan kendaraan lompatan kekuasaan. Saat ini ada fenomena pragmatisme politik. Ada politisi yang maju sebagai legislatif atau eksekutif karena direkomendasikan dari partai A, misalnya. Namun, saat terpilih, karena hasrat untuk naik tingkatan kekuasaan atau motif “mengamankan diri”, lantas ia pindah ke partai lain. Beberapa kali peristiwa serupa pun terjadi di PDI Perjuangan. Tetapi, kami tidak berkecil hati saat kehilangan politisi pragmatis seperti itu. Justru, saya mengibaratkannya sebagai seleksi alam ideologi. Seleksi ideologi akan memilah mana kader dan mana yang bukan kader. Siapa pun yang lebih mementingkan diri dan kelompoknya, sudah pasti akan alami seleksi ideologi. Secara alamiah ideologis, mereka akan menyingkir atau tersingkirkan dari PDI Perjuangan.

PDI Perjuangan terus berupaya untuk menjadikan partai sebagai sekolah politik bagi kadernya. Partai ini terus berjuang untuk menjadi partai pelopor, yaitu partai yang memiliki disiplin ideologi, disiplin teori dan disiplin tindakan politik dalam satu kesatuan.  Secara bertahap dan terencana partai ini membenahi diri. Sehingga, pada titik tertentu akan tersaring sari pati, yaitu kader ideologis yang sesungguhnya. Kepada merekalah masa depan partai ini disandarkan!

Sebagai Ketua Umum partai, instruksi saya kepada seluruh kader adalah lakukan otokritik. Saya perintahkan terutama kepada Tiga Pilar Partai (kader yang ditugaskan di struktur, legislatif dan eksekutif) untuk berani mengkritik diri sendiri. Langkah selanjutnya, lakukan perbaikan atas sikap dan tindakan politik yang harus diambil. Sebagai partai yang sah secara hukum, strategi dan langkah politik yang diambil adalah tidak dengan halalkan segala cara. Saya pastikan, PDI Perjuangan jalankan metode, strategi, langkah dan cara berpolitik yang sesuai dengan konstitusi kita, yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945!

Selama sepuluh tahun kami bertarung, sepuluh tahun kami ditempa. Alhamdulillah pada tahun 2014 PDI Perjuangan kembali mendapatkan kepercayaan rakyat. Kemenangan tersebut, sesuai dengan undang-undang yang berlaku, membuka kesempatan kepada partai ini untuk dapat mengusung calon pada Pemilihan Presiden 2014. Dan, partai ini putuskan untuk mengusung salah satu kader terbaiknya, yaitu Pak Jokowi. Alhamdulillah beliau pun mendapatkan kepercayaan rakyat Indonesia menjadi Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019. PDI Perjuangan pun seperti yang telah diketahui, kembali mengusung Pak Jokowi sebagai calon Presiden 2019-2024. Sebagai Ketua Umum partai, saya tegaskan PDI Perjuangan harus kembali menang dengan tetap gunakan cara-cara konstitusional! Saya ucapkan pula terima kasih kepada penyelenggara Pemilu, KPU dan juga Bawaslu, TNI dan Polri yang saya yakini pula akan mengawal Pemilu 2019 berjalan secara konstitusional.

Saudara-saudara

Saat ini telah hadir para Pengurus Anak Cabang (PAC), yaitu struktural PDI perjuangan di tingkat kecamatan. Sesungguhnya saya ingin mengundang pula pengurus  partai di tingkat kelurahan atau desa yang disebut Ranting, dan pengurus di tingkat RT/RW, yang dinamakan anak ranting. Kehadiran mereka penting, sebagai pengingat bahwa tidak ada istilah elit partai. Tidak boleh ada perlakuan khusus bagi segelintir orang di struktur partai yang lebih tinggi. Anak-anakku seluruh jajaran pengurus PAC, Ranting dan Anak Ranting, jangan rendah diri hanya karena kalian menjadi pengurus partai di kecamatan, kelurahan, desa atau RT/RW. Hirarki kepengurusan dalam partai, bukan berarti perbedaan status dan perlakuan. Jenjang kepengurusan dalam partai hanya membedakan wilayah kerja politik saja.  Di partai ini tidak boleh ada diskriminasi politik. Setiap kader memiliki hak dan kewajiban yang sama, apapun status sosial dan ekonominya. Setiap kader memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama, sesuai dengan aturan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai.

Justru, justru kader partai yang ditugaskan di akar rumput yang sesungguhnya menopang PDI Perjuangan tegak hingga usia ke 46 tahun. Secara pribadi saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua. Anak-anakku, para kader yang bekerja di garda terdepan, kalianlah sesungguhnya yang menyebabkan mesin partai tetap berjalan, tetap bergerak. Meskipun tidak pernah duduk di kursi legislatif, maupun eksekutif, seorang kader ideologis tidak akan pernah hengkang dari partai. Mereka adalah pejuang partai, para kader yang dalam situasi politik sekeras apa pun, termasuk sesulit apa pun kondisi kehidupan ekonomi mereka sendiri, mereka tidak pernah palingkan hati dari partai ini. Terima kasih untuk tidak pernah berhenti mengabdikan diri dalam politik dengan berjuang untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini dengan tetap berideologi Pancasila!

Saudara-saudara

Sekarang ini, fenomena politik yang ada seharusnya membuka kesadaran kita semua, betapa sudah saatnya bangsa ini memiliki satu konsep tentang pokok-pokok pikiran Pancasila. Pancasila sebagai penuntun kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila sebagai haluan dalam setiap pengambilan keputusan politik.  Tahun lalu, pada perayaan ulang tahun PDI Perjuangan yang ke-45, saya telah sampaikan beberapa hal penting dalam kaitan antara politik, partai politik dengan ideologi Pancasila.

Pertama, “berpolitik harus dengan ideologi Pancasila. Karena saya sangat menginginkan partai ini mampu melahirkan politisi-politisi yang berkarakter, punya prinsip. Sehingga, tidak tersesat dan menyesatkan rakyat saat dipercaya menjadi pemimpin. Camkan, ideologi bukan alat yang berfungsi untuk mengumpulkan pengikut dan melegitimasi para pemimpinnya. Ideologi bukan mesin untuk memproduksi pengikut yang patuh buta dan mati rasionalitasnya. Bukan untuk ciptakan pemimpin yang mahir memanipulasi. Ideologi yang benar, justru berfungsi untuk melahirkan massa yang sadar, melahirkan rakyat yang sadar akan tanggung jawabnya terhadap kepentingan nasional. Ideologi yang benar justru suatu penuntun bagi pemimpin untuk meleburkan diri dalam masalah sosial dan ekonomi yang dihadapi rakyat.”

Kedua, “Pancasila bukan segumpal pernyataan simbolik kosong. Cara satu-satunya, untuk membuktikan adalah  dengan membumikan Pancasila. Bumikan dalam keputusan politik pembangunan yang direncanakan dengan baik, terukur, jelas tahapannya dan menyangkut segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, saya tegaskan dan saya tugaskan, terutama bagi kader partai yang sedang bertugas di legislatif dan eksekutif.… saya tugaskan untuk menjalankan visi misi pembangunan yang disusun oleh partai.”

Saudara-saudara

Visi misi pembangunan tersebut telah diputuskan pada Rapat Kerja Nasional PDI Perjuangan, pada bulan Februari 2018, yang diberi nama Pembangunan Nasional Berdikari. Inilah konsep pembangunan untuk membumikan Pancasila. Pancasila dalam konsep pembangunan, pembangunan di segala bidang kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun mental dan spiritual. Konsep ini merupakan suatu cetak biru agar Indonesia dapat menjadi negara industri maju, yang menempatkan rakyat sebagai subyek sekaligus tujuan dalam pembangunan nasional. Dengan demikian, jelas dibutuhkan satu Badan Riset dan Inovasi Nasional yang hasil kerjanya harus menjadi landasan bagi setiap pengambilan keputusan program pembangunan. Saya tidak akan pernah bosan mengingatkan, “tidak ada satu negara pun dapat menjadi negara maju, tanpa mengedepankan riset ilmu pengetahuan dan teknologi, serta inovasinya”. Ini yang sedang saya perjuangkan bersama Pak Jokowi. Tentu saja, perjuangan ini akan menemukan jalannya, jika PDI Perjuangan menang kembali dan Pak Jokowi pun terpilih kembali sebagai Presiden Republik Indonesia pada Pemilihan Umum, 17 April 2019.

Kader dan simpatisan PDI Perjuangan

Pemilu sebentar lagi. Waktu kita singkat, hanya 97 hari menuju 17 April 2019. Bergeraklah untuk semua cita-cita membumikan Pancasila. Kemenangan kita pada Pemilu 2019, bukan semata kemenangan PDI Perjuangan. Kemenangan PDI Perjuangan harus menjadi kemenangan rakyat dan bangsa Indonesia. Partai ini harus menang. Pak Jokowi harus terpilih lagi sebagai Presiden. Maka, jangan bertengkar karena perebutan kursi. Jangan saling sikut. Singkirkan metode konflik, enyahkan hasrat devide et impera. Jangan karena ambisi berkuasa, lantas sibukkan diri menebarkan benih perpecahan. Jangan kampanyekan kebencian. Kemenangan hanya tercapai jika Tiga Pilar Partai, Sayap Partai, termasuk simpatisan partai ada dalam satu nafas dan langkah perjuangan. Camkan pesan saya, “Jika kita pecah, kita sudah kalah dari awal pertempuran politik. Tetapi, jika kita solid maka setengah pertempuran sesungguhnya telah kita menangkan!”

Setengahnya lagi, turunlah ke bawah, datangi rakyat, sapa mereka, menangkan hati rakyat. Berpolitik dengan gembira. Sampaikan kabar yang mampu memompa harapan rakyat untuk sama-sama mengabdi pada kepentingan nasional. Partai ini membutuhkan rakyat. Karena, rakyat adalah sumber, cakrawati sekaligus tujuan politik PDI Perjuangan.  Tebarkan benih-benih kesadaran politik. Pemilu 2019 adalah momentum untuk kebangkitan Indonesia. Rakyatlah yang sesungguhnya menjadi penentu. Saya yakin, mayoritas rakyat Indonesia adalah rakyat yang akan berjuang bersama kita. Rakyat Indonesia yang akan sekuat tenaga, sebaik-baiknya, sekuat-kuatnya, sehormat-hormatnya mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berideologi Pancasila!

Rakyat Indonesia di seluruh Tanah Air

Membumikan Pancasila tidak mungkin tanpa adanya persatuan dari seluruh elemen bangsa. Persatuan Indonesia dalam gotong royong nasional adalah syarat mutlak Pancasila dapat dibumikan. Tentu, tentu ini bukan perkara mudah. Jembatan menuju Trisakti berupa cetak biru pembangunan untuk menjadi negara industri maju, bukan suatu hal yang mudah pula untuk direalisasikan. Tetapi, saya percaya kita bisa, Indonesia pasti bisa!

Pada tanggal 17 Agustus 1959, Bung Karno berpesan kepada bangsa Indonesia.

“Alangkah banyaknya kesulitan yang masih kita hadapi! Tetapi, pengalaman yang sudah-sudah membuktikan, bahwa kita selalu survive, bahwa dus kita selalu dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang maha besar! Ya, asal kita tetap bersatu, asal kita tetap berjiwa segar. Asal kita tetap menjaga, jangan sampai perjuangan kita ini dihinggapi oleh penyakit-penyakit yang sesat. Asal kita tetap berjalan di atas relnya Proklamasi, Insya Allah, kita akan atasi segala kesulitan yang akan menghadang, kita akan ganyang kesulitan yang akan menghalang!”

Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air

Di usia yang ke 46 tahun ini, PDI Perjuangan mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu, galang soliditas dan solidaritas bangsa. Bersatu untuk selalu gemakan optimisme, penuhi dada dengan semangat keberanian. Bangsa ini tidak boleh menjadi bangsa yang pesimis. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berani menerima kenyataan bahwa kesulitan-kesulitan yang kita hadapi tidak akan lenyap dalam satu malam. Tetapi, kitapun adalah bangsa yang terus nyalakan suluh perjuangan, satukan diri, singsingkan lengan, kepalkan tangan persatuan. Kita akan terus nyalakan api pergerakan, satukan dirikan pekik merdeka sejati. Ayo, bangkit, bergerak, berjuang bersama. Saya yakin, Persatuan Indonesia dengan pengerahan segala kemampuan dan kecerdasan yang kita miliki, akan mampu Bumikan Pancasila. Saya yakin, haqul yakin, ainul yakin Indonesia akan mampu berdiri kokoh. Saya yakin, seyakin-yakinnya, bangsa Indonesia mampu menjadi satu bangsa besar yang Hanyakrawati Hambaudenda, bangsa yang berdaulat, bangsa yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja.  Itulah Indonesia Raya, Indonesia yang sejati-jatinya merdeka!


Terima kasih

Wassalamualaikum, Wr, Wb

Merdeka!! Merdeka!! Merdeka

Megawati Soekarnoputri

 

Instagram

Twitter

Facebook