Please wait... X

Berita Menciptakan Satu Harga Perlu Infrastruktur Penopang Distribusi

PDI Perjuangan, 06/Dec/2018

Menciptakan Satu Harga Perlu Infrastruktur Penopang Distribusi

Ditemui usai menjadi narasumber diskusi beberapa waktu lalu, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, Nusyirwan Soejono menandaskan bahwa kepemimpinan Presiden Joko Widodo harus dilanjutkan sekali lagi. Agar pembangunan infrastruktur serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia Indonesia tidak berhenti di tengah jalan. Anggota Komisi V DPR RI ini menyatakan, sepanjang periode pertama Joko Widodo memimpin telah mampu menciptakan kebijakan satu harga yang sebelumnya belum tercapai. Nusyirwan juga menyampaikan upaya pemerintah mencapai ketahanan energi dan elektrifikasi. Untuk mengetahui lebih lanjut silakan simak wawancara berikut ini.

Apa Program Presiden Joko Widodo untuk periode kedua nanti?

Infrastruktur untuk tingkat nasional bisa dibangun dalam masa kurun tiga tahunan. Jadi mau bangun apalagi terbentang panjang begitu seperti di Kalimantan, di Papua. Itu tidak ada yang selesai dalam waktu satu tahun. Presiden Jokowi melanjutkan program-program nasional untuk membangun connectivity Nusantara yang belum selesai, dengan beberapa fokus penting untuk menjaga kebijakan disparitas harga. Perbedaan harga misalnya antara Papua dengan Jawa. Menghilangkan disparitas itu membutuhkan sarana distribusi. Membutuhkan dermaga, bandara untuk supaya distribusi ini bisa sampai dan supaya harga-harga ini bisa sama semua. Kalau cuma ngomong disparitas, tapi kita tidak membangun jaringan distribusi itu susah, tidak bisa. Bikin sama itu tidak mungkin. Maka, mengedepankan infrastruktur yang dilakukan Pak Jokowi itu sudah benar. Semua itu mengacunya ke situ. Bagaimana bisa menyamakan harga-harga di Sulawesi, Kalimantan, Papua dengan Jawa, kalau kita tidak membangun infrastruktur. Tentu ada beberapa hal yang kurang, ya disempurnakan dan diperbaiki. Apa perbaikannya? Mungkin dengan BPJS, Kartu Indonesia Sehat yang harus diimplementasi ke seluruh Indonesia, terus Kartu Indonesia Pintar untuk anak-anak sekolah. Ini kaitannya kepada penekanan sumber daya manusia

Bagaimana kaitan antara revolusi mental dan pembangunan infrastruktur?

Apa sih maknanya? Mentalnya diubah, itu harus direform. Yang tadinya mungkin tidak semangat kerja. Revolusi mental jangan dibaca apa adanya gitu dong. Kita ini hampir Sabtu-Minggu nggak tahu libur atau tidak. Kerja terus. Di daerah-daerah juga begitu. Ini merupakan reformasi mental kerja. Itu bagian daripada revolusi mental. Itu juga putusan hukum yang terkait dengan mental. Sekarang tidak bisa main-main, mungkin dahulu kerja suka-sukanya sekarang diawasi. Itu kan revolusi mental

Terkait disparitas harga, apa saja komoditas yang harus disatuhargakan?

Setiap daerah di Indonesia itu memiliki potensi sendiri-sendiri. Jadi, di sini adalah untuk menopang dan memperkuat potensi daerah. Potensi nasional di setiap daerah yang ada harus dibangkitkan. Sekarang masih beberapa spot saja yang mampu meningkatkan. Misalnya, dahulu Kabupaten Banyuwangi itu daerah di Jawa Timur bagian paling timur di sudut selatan, perkembangannya paling miskin. Tapi kepala daerahnya mampu menggerakkan potensi daerah. Sekarang menjadi wilayah yang maju. Ini revolusi mental namanya.

Bagaimana pendapat Anda dengan Pola Semesta Pembangunan Berencana?

Kita ini masih tetap mengacu pola pembangunan yang sifatnya Nusantara yaitu semesta. Maka Presiden Jokowi membangun dari pinggiran. Nawacita juga mengamanatkan membangun dari pinggiran. Perhatian pemerintah saat ini kepada desa-desa sangat tinggi. Desa-desa ini tidak hanya di Pulau Jawa tapi juga desa-desa di luar Pulau Jawa. Ini berkaitan dengan semesta atau Nusantara ini. Maka membangun connectivity, antara Jawa-Sulawesi, Jawa-Kalimantan, Jawa-Papua, koneksitasnya untuk menjaga Pola Pembangunan Semesta Berencana itu. Tidak nyambung kalau pembangunan semesta hanya Jawa, itu Jawa sentris. Harus Indonesia sentris, ini baru namanya Pembangunan Semesta. Kita telah melakukan hal ini.

Apa proyeksi Presiden Jokowi untuk ketahanan energi pada periode kedua nanti?

Potensi energi di Indonesia itu begitu lengkap. Lengkap itu maksudnya baik jenis maupun tata letak, atau lokasinya. Kita punya potensi angin, sudah dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) pakai baling-baling di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Kalau dengan menggunakan air, waduk ini semua dibangun bermanfaat untuk pembangkit listrik, mengairi sawah dan air bersih. Jadi, kalau soal energi, pulau-pulau kita ini, sebetulnya memiliki potensi sendiri-sendiri, tidak tergantung hanya kepada fosil, kepada bahan bakar minyak. Tinggal potensi itu dikembangkan untuk menjaga – kalau sekarang melanjutkan program 35 ribu megawatt – itu sumbernya tidak harus dari fosil. Karena di Sidrap itu sudah dibikin. Potensi geothermal, potensi panas matahari atau solar, ini lebih-lebih karena kita tinggal di negara tropis. Ini bukan untuk gagah-gagahan ya, atap di stadion utama Gelora Bung Karno memakai tenaga matahari itu saya yang usul. Supaya panel surya, berapapun yang dihasilkan dapat menerangi stadion. Indonesia ini semestanya kuat sekali, energinya tidak kurang-kurang. Hanya selama ini potensi itu, sekali lagi selama ini, potensi energi itu tidak pernah diberi ruang.

Instagram

Twitter

Facebook