Please wait... X

Pidato_Ketua_Umum Perawat Sumber Kekuatan Menuju Indonesia Sehat

PDI Perjuangan, 13/May/2018

Perawat Sumber Kekuatan Menuju Indonesia Sehat

Presiden ke 5 Republik Indonesia  Dr. (HC) Hj. Megawati Soekarnoputri menyampaikan amanat kebangsaan dalam orasi ilmiah memeringati Hari Perawat Internasional 2018 di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (12/5/2018). “Berbicara kesehatan, tidak terlepas dari mereka yang disebut tenaga kesehatan. Nasib kesehatan rakyat ada di tangan mereka. Di sisi lain, mereka juga ditugaskan hingga ke pulau-pulau terluar. Maka bagi saya, tenaga kesehatan adalah para pejuang penjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Megawati Soekarnoputri.

Dalam orasi ilmiah tersebut Presiden ke 5 Republik Indonesia yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan  meminta para perawat bila sedang mengunjungi pelosok daerah juga ikut menyampaikan kepada rakyat, jika ideologi Pancasila sedang menghadapi tantangan dari sekelompok orang. “Gimana mau sehat, gimana perawat mau berkehidupan yang cukup kalau ada sebagian manusia Indonesia bikin ulah,” ujar Megawati merujuk aksi kelompok narapidana terorisme biang kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. 

Terkait Revisi Terbatas atas Undang-Undang No. 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), putri Bung Karno itu berharap Presiden RI, Joko Widodo mengangkat para perawat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). "Semoga segera ada pembahasan dan segera disahkan di tahun 2018, agar ada mekanisme pengangkatan yang bertahap tapi jelas, transparan, adil dan melalui cara yang konstitusional".

Berikut isi lengkap pidato Megawati Soekarnoputri menyambut Hari Perawat Internasional yang diperingati setiap tanggal 12 Mei.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam Damai Sejahtera untuk kita semua,

Om Swastyastu,

Namo Buddhaya.

Sebelumnya marilah kita lebih dahulu memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas perkenanNya kita dapat berkumpul pada hari ini.

Hadirin yang saya hormati,

Isu kesehatan selalu menjadi hal menarik dan prioritas bagi saya. Tidak mungkin suatu negara dapat menjadi negara yang kuat, jika kesehatan rakyatnya terbelakang. Saat ini kesehatan telah menjadi satu hal yang dianggap krusial bagi keberlangsungan hidup setiap bangsa. Karena itu, kesehatan diposisikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari isu ketahanan dan pertahan suatu negara. Tentu saja, berbicara kesehatan, tidak terlepas dari mereka yang disebut tenaga kesehatan. Nasib kesehatan rakyat ada di tangan mereka. Dari mulai program promotif, preventif, kuratif hingga rehabilitatif, tidak mungkin berjalan tanpa tenaga kesehatan. Di sisi lain, mereka juga ditugaskan di seluruh wilayah tanah air, hingga pulau-pulau terluar, daerah terpencil sampai sangat terpencil, termasuk daerah yang mengalami isolasi geografis. Oleh sebab itu, tenaga kesehatan sesungguhnya bukan hanya sebagai pekerja pelayan publik. Bagi saya, tenaga kesehatan adalah para pejuang penjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saudara-saudara,

Dengan jumlah penduduk sekitar 261,1 (dua ratus enam puluh satu koma satu) juta jiwa, menurut saya Indonesia masih kekurangan tenaga kesehatan. Data Desember 2016 dari Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPPSDMK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dari 15.263 (lima belas ribu, dua ratus enam puluh tiga) unit layanan kesehatan seluruh Indonesia jumlah total tenaga kesehatan adalah 1.000.780 (satu juta, tujuh ratus delapan puluh) orang, yang tersebar di seluruh Indonesia. Tenaga kesehatan di bidang medis berjumlah 601.228 (enam ratus  satu ribu, dua ratus, dua puluh delapan) orang. Rinciannya sebagai berikut: 49% perawat, bidan 27%, dokter spesialis 8%, dokter umum 7%, farmasi 7% dan dokter gigi 2%.

Hadirin yang saya hormati, 

Hari ini, 12 Mei 2018 kita berkumpul untuk memperingati Hari Perawat Internasional. Tema tahun ini adalah “Nurses a Voice to Lead: Health is a Human Right”. Tema ini diputuskan karena perawat dianggap sangat penting dalam membangun sistem perawatan kesehatan. Dunia menganggap perawat adalah salah satu agen perubahan yang dapat meningkatkan akses rakyat terhadap hak atas kesehatan. Sudah saatnya suara perawat didengar, sebagai bagian untuk memperbaiki sistem kesehatan di Indonesia.

Saudara-saudara,

Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2015-2019, menargetkan 180 perawat per 100.000 penduduk. Tahun 2017, terdata 170 perawat per 100.000 penduduk. WHO menargetkan 445 perawat untuk 100.000 penduduk. Kita bandingkan dengan negara tetangga, misalnya Thailand yang sudah mencapai 400 perawat per 100.000 penduduk. Kalau menurut saya, dengan jumlah penduduk yang besar, target jumlah perawat Indonesia harusnya ditingkatkan. Peningkatan yang saya maksud bukan hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga dari sisi kualitas dan terpenuhinya hak-hak dasar perawat sebagai pekerja.

Saya masih ingat saat menginstruksikan kader-kader saya untuk bersama perawat, terutama PPNI dalam memperjuangkan Undang-Undang Keperawatan, agar ada perlindungan dan kepastian hukum bagi perawat. Alhamdulillah perjuangan kita berhasil. Namun, harus disadari bahwa lahirnya suatu undang-undang tidak otomatis membuat segala persoalan teratasi. Harus dikawal terus dalam implementasinya. Dari sisi prasyarat pendidikan, menurut saya sudah banyak kemajuan. Menjadi perawat itu tidak mudah. Berdasarkan UU Keperawatan, syarat pendidikan minimum bagi seorang perawat adalah Diploma 3 untuk perawat vokasi. Sementara untuk profesi, harus menyelesaikan studi pendidikan S1, ditambah satu tahun pendidikan profesi ners. Lalu, wajib mengikuti uji kompetensi nasional. Setelah itu, harus memenuhi kualifikasi Surat Tanda Registrasi atau STR dari Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia. Baru bisa jadi perawat. Sungguh prasyarat yang tidak mudah. Namun, ternyata dengan syarat seperti itu, kondisi sebagian perawat masih memprihatinkan. Beberapa hal yang terus saya perjuangkan, pertama terkait minimnya upah yang diterima sebagian perawat. Kabarnya, bahkan masih ada yang di bawah upah minimum.

Kedua, terkait kompetensi perawat yang harus ditingkatkan. Tetapi, saya ingin mengingatkan, peningkatan kompetensi bagi perawat tersebut, pertama kali bukan untuk memenuhi target pengiriman perawat ke luar negeri. Target pertama haruslah untuk peningkatan kualitas perawat yang bekerja di dalam negeri. Hal ini penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan Indonesia. Kompetensi yang saya maksud, juga terkait dengan hal ketiga, yaitu status kerja. Data yang saya peroleh, 30% dari perawat masih berstatus pegawai tidak tetap.

Berulangkali saya sampaikan di berbagai kesempatan, bahwa untuk profesi tertentu, terutama mereka yang bekerja di garda terdepan pelayanan publik, harus ada perbaikan mekanisme perekrutan Pegawai Tetap Negara. Usia tidak dapat dijadikan variabel penentu seseorang diangkat atau tidak. Saya selalu mengingatkan bahwa profesionalitas juga harus dinilai dari lamanya pengabdian. Untuk para tenaga kesehatan, termasuk perawat, semakin lama seseorang bekerja, pengalaman akan mengasah dan menempa kemampuannya. Karena itulah, sejak awal saya mendukung Revisi Terbatas atas Undang-undang tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Hanya satu pasal yang harus dikoreksi agar ada keadilan bagi mereka yang telah mengabdikan diri bertahun-tahun kepada negara. Alhamdulillah Presiden Jokowi sudah mengeluarkan Surpres yang menugaskan tiga menteri untuk membahas bersama DPR. Semoga segera ada pembahasan dan segera disahkan di tahun 2018, agar ada mekanisme pengangkatan yang bertahap tapi jelas, transparan, adil dan melalui cara yang konstitusional.

Kepala Daerah dan anggota DPRD yang saya hormati,

Sambil menunggu pembahasan Revisi UU ASN, menurut saya, Pemerintah Daerah dapat pula memberi dukungan. Paling tidak, mulai tahun depan tidak ada lagi perawat yang berstatus Tenaga Harian Lepas atau Sukarelawan. Tidak kalah pentingnya adalah terkait amanat Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional, yang kebetulan saya tandatangani saat saya menjabat sebagai Presiden, yaitu tahun 2004. Ada lima jaminan sosial yang harus diterima oleh seluruh rakyat, terutama pekerja. Lima Jaminan Sosial, yaitu Jaminan Kesehatan, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Pensiun, Jaminan Hari Tua dan Jaminan Kematian. Paling tidak, Pemerintah Daerah bersama DPRD, saya yakin, mampu mengupayakan Jaminan Kesehatan bagi seluruh perawat, yang berstatus pegawai tidak tetap.

Terakhir, untuk anak-anakku, perawat di seluruh tanah air. Saya ucapkan terima kasih atas pengabdian kalian kepada rakyat, bangsa dan negara. Jangan berkecil hati, teruslah mengorganisir diri, kita akan terus berjuang bersama untuk perbaikan nasib perawat Indonesia. Tidak ada yang tidak mungkin, jika kita perjuangan bersama-sama. Doa dan perjuanganku selalu bersama kalian. Perawat Kuat, Rakyat sehat!

 

Terima kasih

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Om Santi Santi Santi Om

Salom

Semarang, 12 Mei 2018

 

Presiden Republik Indonesia ke-5

Dr. (HC) Hj. Megawati Soekarnoputri

 

 

Instagram

Twitter

Facebook