Please wait... X

Berita Pidato Ketua Umum PDI Perjuangan di Rakornas Tiga Pilar, Berdikari Untuk Indonesia Raya

PDI PERJUANGAN, 18/Dec/2017

Pidato Ketua Umum PDI Perjuangan di Rakornas Tiga Pilar, Berdikari Untuk Indonesia Raya

Ketua Umum PDI Perjuangan menegaskan sikap politik PDI Perjuangan terkait pangan.  PDI Perjuangan mendorong kedaulatan pangan karena ketahanan pangan hanya berorientasi pada ketersediaan pangan belaka tanpa mempedulikan asal muasalnya, tanpa peduli nasib petani. “Disebutnya kita harus selalu mempertahankan pangan kita. Kami tak setuju hal itu. Yang harus dilakukan sebenarnya adalah kedaulatan pangan kita," tegas Ketua Umum saat Rakornas Tiga Pilar di Gedung ICE BSD, Tangerang, Banten, Sabtu (16/12/2017).

Ketua Umum menjelaskan kedaulatan pangan adalah soal keberlangsungan hidup suatu bangsa dari mulai hidup dan kehidupan petani, kedaulatan atas air dan tanah dan energi hingga bagaimana pangan didistribusikan kepada seluruh rakyat dengan aman, murah dan cepat. Untuk itu, PDI Perjuangan mempelopori gerakan ekonomi berdiri di atas kaki sendiri (Berdikari), suatu gerakan ekonomi gotong royong dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.  

Selain berbicara kedaulatan pangan, Megawati Soekarnoputri mendorong pemerintah untuk  menaikan anggaran research dan penelitian. PDI Perjuangan berharap Indonesia memiliki ahli penelitian dan riset yang berorientasi pada lingkungan dan penyelamatan kekayaan alam. “Sebagai ketua umum PDI Perjuangan, kalau berbicara APBN, saya mohon dengan sangat, kalau bisa lima persen untuk penelitian," ujar Ketua Umum.

Berikut ini pidato lengkap Ketua Umum PDI Perjuangan:

"Berdikari Untuk Indonesia Raya"

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam damai sejahtera untuk kita semua

Om Swastyastu

Namo Buddhaya…

Yang saya hormati dan saya cintai Presiden Republik Indonesia Bapak Ir. Joko Widodo atau yang terkenal dengan nama Bapak Jokowi, Wakil Presiden Republik Indonesia Bapak Jusuf kalla, Presiden Republik Indonesia yang ke 3 Bapak BJ Habibie, para pimpinan lembaga tinggi negara, para pimpinan partai politik yang hadir, terima kasih atas kehadirannya, dan seluruh jajaran menteri kabinet kerja. Terutama bagi anak-anakku tercinta para kader PDI Perjuangan yang disebut kader tiga pilar partai, yaitu datang dari struktural, legislatif, dan eksekutif. Hadirin sekalian yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, rekan-rekan pers yang saya hormati.

Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala sehingga Rapat Koordinasi Nasional atau Rakornas Tiga Pilar PDI Perjuangan dapat dilaksanakan pada hari ini. Rakornas kali ini, Partai hadir dalam keseluruhan wajah partai, seperti yang tadi telah saya katakan, yaitu struktur partai, kader partai eksekutif dan legislatif, atau yang dikenal dengan Tiga Pilar Partai.

Dalam kesatupaduan tiga pilar Partai, PDI Perjuangan menegaskan tekadnya untuk mempelopori gerakan ekonomi berdiri di atas kaki sendiri atau berdikari; suatu gerakan ekonomi gotong royong dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Inilah yang dimaksud Demokrasi Ekonomi Pancasila

Kita akan terus memperjuangkan demokrasi Indonesia yang mengandung suatu elemen-elemen khusus yang tidak ada pada demokrasi barat. Elemen khusus yang saya katakan ini merupakan warisan dari tradisi jiwa bangsa Indonesia, yaitu jiwa gotong royong dan musyawarah dalam suasana kekeluargaan.

Asas gotong royong dan kekeluargaan, dalam pidato Lahirnya Pancasila Bung Karno menerangkan gotong royong adalah suatu paham yang dinamis yang menggambarkan suatu usaha, suatu amal, suatu pekerjaan atau suatu karya bersama suatu perjuangan dan bantu-binantu, gotong royong adalah amal dari semua untuk berkepentingan semua atau jerih payah semua untuk kebahagiaan bersama.

Sebutan gotong royong ini adalah, gotong adalah keinsyafan kesadaran dan semangat untuk mengerjakan, serta menanggung akibat dari suatu karya secara bersama sama dan serentak, suatu kehendak dan tindakan bersama tanpa memikirkan dan mengutamakan keuntungan bagi dirinya sendiri. Royong adalah bahwa dalam membagi hasil karya bersama tadi, masing masing anggota mendapat dan menerima bagiannya sendiri-sendiri sesuai dengan tempat dan kontribusi masing-masing.

Asas kekeluargaan dalam berdemokrasi Pancasila, gotong royong harus melekat dengan asas kekeluargaan, kekeluargaan adalah keinsyafan serta kesadaran budi dan hati nurani manusia untuk mengerjakan sesuatu oleh semua untuk semua, asas kekeluargaan mengajarkan bahwa; Pertama, kepentingan dan kesejahteraan bersama harus diutamakan bukan kepentingan dan kesejahteraan orang perorang.

Kedua, antara pemimpin dan yang dipimpin atau yang disebut masyarakat, antara yang memimpin dan yang mengawasi terdapat satu kesatuan dalam cipta, rasa, karsa dan karya, kesatuan melakukan segala sesuatu oleh semua untuk semua.

Ketiga, tidak boleh kesadaran akan hak, nafsu akan tuntutan yang berkuasa dan mendominasi di dalam seluruh upaya dan karya tersebut, sebaliknya cinta kasih dan kesadaran akan kewajiban yang harus menjadi pendorong dan penggerak utama, untuk itu harus ada suatu perencanaan, pembangunan di dalam berdiri di atas kaki sendiri atau berdikari.

Demokrasi Ekonomi Pancasila harus berwujud dalam suatu keputusan perencanaan pembangunan, tujuannya adalah untuk mewujudkan Indonesia raya yang berdiri di atas kaki sendiri, pembangunan berdikari merupakan perencanaan pembangunan menyeluruh “overall planning” di segala bidang politik, ekonomi, sosial, kebudayaan dan mental, perencanaan pembangunan tersebut harus menjadi milik dari rakyat dan dilaksanakan oleh seluruh elemen rakyat Indonesia, artinya ruang partisipasi rakyat dalam pembangunan harus dibuka lebar inilah yang dimaksud dengan implementasi gotong royong dalam perekonomian nasional, hakikinya rakyat selalu dilibatkan. Karenanya sangat penting untuk mempersiapkan  tenaga negara yang berwatak pembangunan yaitu rakyat yang terdidik, terlatih dan menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi tetap memiliki kepribadian Indonesia dan berorientasi pada kepentingan nasional, sehingga ia mampu memiliki daya cipta, kreatif dan inovatif dengan tetap berdiri kepada jati diri Indonesia.

Bagi saya, daya cipta rakyat yang mengakar pada budaya dan tradisi Indonesia merupakan suatu modal penting dalam pembangunan kita, karena itu dalam acara rakornas tiga pilar PDI Perjuangan dipamerkan hasil-hasil produksi yang berbasis kerakyatan, berbasis kebudayaan, berupa hasil pertanian, kuliner, cita atau tekstil dan sebagainya. Kita tunjukan bahwa rakyat Indonesia sebenarnya dapat menjadi rakyat yang produktif seperti yang saya sampaikan di atas, asal dalam perencanaan pembangunan dibuka ruang partisipasi rakyat dan dibuka akses bagi rakyat untuk terlibat sebesar-besarnya. Sehingga rakyat Indonesia pasti bisa berdiri di atas kaki sendiri.

Pembangunan berdikari bersifat ilmiah dan berwawasan lingkungan, bapak proklamator kita Bung Karno mengingatkan kita semua bahwa dasar perencanaan pembangunan harus bersifat ilmiah science best policy, “saya sangat tahu Pak Habibie pasti setuju seribu persen atas hal ini”, pembangunan harus bersandar pada research dan penelitian.

“Bapak Presiden, kalau saya ingat dari sejak saya di DPR sampai sekarang, yang saya tidak mengerti, kita ingin maju tetapi kalau dalam perencanaan APBN, yang namanya research penelitian, dari dulu sampai sekarang itu tidak pernah satu persen saja tidak pernah, jadi menurut saya sangat aneh kalau kita bercita cita untuk memajukan bangsa dan negara ini jadi dalam kesempatan yang baik ini, sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, nanti kalau berbicara APBN saya mohon dengan sangat, call tinggi saja saya bapak; Kalau bisa lima persen itu untuk research dan penelitian ya siapa tau nanti bisa jadi dua setengah persen begitu. Kita selalu membanggakan kalau di America ada Silicon Valley terus kita juga tadi bilang daerah ini begitulah, darimana ya saya pikir apa yang mau diresearch”.

Research pembangunan yang Bung Karno maksud pun adalah research yang berorientasi pada penyelamatan alam dan lingkungan hal ini sering kita lupakan, kekayaan alam sebagai salah satu modal pembangunan bukan untuk di eksploitasi hanya atas nama investasi, eksploitasi alam hanya akan membawa kehancuran peradapan manusia kekayaan alam sebenarnya adalah modal pembanguanan yaang harus dimanfaatkan dengan bijaksana dengan memperhatikan keberlangsungan ekosistem. Tidak ada salahnya kita belajar atau bahkan mengadopsi tradisi masyarakat adat dalam menjaga pola kehidupan yang bersinergi dengan alam dan lingkungan.

Kami mendukung keseriusan Indonesia dalam isu perubahan iklim dengan terlibat aktif mendorong keadilan iklim dalam menekan emisi rumah kaca. Tadi yang membaca Pancasila, dia adalah salah seorang penerima Kalpataru.

Kekayaan alam modal pembangunan. Tanah air kita itu sangat, sangat, sangat “tiga kali, lima kali” juga boleh sangat kaya, ketika saya menjadi presiden, saya selalu menyuruh protokol saya berbicara dengan protokol dari tamu negara kita, “Kalau nanti ada mau menanyakan Indonesia yang ada itu apa, maka saya memohon untuk menanyakannya, apa yang Indonesia tidak punya? Maka saya tentu akan menjawab silahkan apa yang anda minta, ya semua ada makanya orang pada mau datang ke kita, yaitu tadi dikatakan datang dengan sebagai investor dan sebagainya, tetapi presiden kita dengan keras telah mengatakan bahwa; “Boleh datang, tapi kontraknya sekarang harus berkeadilan untuk bangsa Indonesia”.

Hampir seluruh kekayaan mineral kita punya, saya sering berbicara dengan anak-anak ITB, dari geologi lalu dari mereka yang ada di kelautan, mereka mengatakan “sayang ibu tidak bisa nyelam”, karena keindahan di dalam lautan itu luar biasa saya percaya karena tidak perlu melihat ke dalam dari luar saja itu terlihat biodiversitas kekayaan hayati, keanekaragaman flora dan fauna Indonesia juga luar biasa, endemik Indonesia yang tidak dimiliki negara-negara lain semuanya adalah aset bangsa yang harus dijaga kelestariannya, saat ini saya sedang memperjuangkan semacam paten bagi kekayaan Indonesia yang didengar yang dikenal dengan indikasi geografis seperti umpamanya “Subak” di Bali dan di negara lain tidak ada, ini akan dapat masuk dan sudah diterima sebenarnya oleh Unesco sebagai indikasi geografis, “jadi orang Bali harus bangga”. Saya tidak ingin biodiversitas Indonesia diklaim orang lain, karena sekarang ini dengan semakin majunya teknologi, terutama di ilmu genetika bidang genetika pencurian-pencurian dari tumbuhan flora fauna kita sangat mudah untuk dicuri, “sehingga saya instruksikan kepada kader partai untuk membantu mendata potensi kekayaan hayati budaya dan intelektual di daerah masing-masing untuk selanjutnya kita daftarkan secara resmi sebagai bagian dari milik bangsa Indonesia”.

Bapak Presiden dan hadirin sekalian yang saya hormati, dalam kesempatan ini pun saya ingin menggarisbawahi dari PDI Perjuangan, hal mengenai sebutan, seringkali masih banyak orang berbicara mengenai pangan, “di sini saya lihat ada bapak mentri pertanian”, disebutnya kita harus selalu mempertahankan pangan kita, dari sisi kami, kami tidak setuju hal itu, karena yang harus sebenarnya adalah kedaulatan pangan kita. Apa bedanya, yang penting dalam pembangunan berdikari adalah terkait kedaulatan pangan, kedaulatan pangan tidak sama dengan ketahanan pangan, ketahanan pangan hanya bisa berorientasi pada ketersediaan pangan belaka tanpa mempedulikan asal muasalnya, bisa import, bisa kerjasama dengan luar tanpa peduli nasib petani sendiri. Soal pangan bagi saya tentu saja seperti tadi saya sebutkan adalah tercapainya kedaulatan pangan, kedaulatan pangan adalah soal keberlangsungan hidup suatu bangsa dari mulai hidup dan kehidupan petani, kedaulatan atas air dan tanah dan energi hingga bagaimana pangan didistribusikan kepada seluruh rakyat dengan aman, murah dan cepat. Kedaulatan pangan adalah ketersediaan pangan melalui kemampuan pemenuhan pangan yang pertamakali dan harus berasal dari dalam negeri sendiri, baru dan merupakan hasil produksi rakyat kita sendiri, baru kalau sekiranya kita tidak ada barangnya, tidak ada yang namanya hasil pangannya maka kita boleh minta bantuan dengan teman-teman bangsa lain, bukan berarti saya ini adalah yang namanya anti asing tidak sama sekali, itulah artinya kedaulatan pangan.

Saudara-saudara, apa yang saya sampaikan di atas adalah suatu penegasan sikap politik PDI Perjuangan untuk terus berjuang mewujudkan cita-cita rakyat Indonesia, cita-cita rakyat Indonesia yang seperti dapat digambarkan oleh bapak bangsa kita Bung Karno, di dalam masyarakat yang demikian itu aku akan cukup sandang dan cukup pangan, di dalam masyarakat yang demikian itu anakku tidak lagi menderita, di dalam masyarakat yang demikian itu aku tidak lagi basah jikalau hujan turun dan tidak lagi kepanasan jikalau matahari terik, di dalam masyarakat yang demikian itu aku mudah sekali bergerak dari satu tempat ke lain tempat, di dalam masyarakat yang demikian itu aku mudah sekali menghirup segala udara segar daripada kebudayaan kita yang tinggi, di dalam masyarakat yang demikian itu aku akan hidup bahagia menurut cita-cita orang tua kita dari sejak zaman dahulu tata tentrem kerta raharja.

 

Saudara-saudara itulah ciri jika Indonesia telah berdiri di atas kaki sendiri, untuk itulah cita-cita Rakornas Tiga Pilar ini kita adakan moga-moga Tuhan Yang Maha Esa membimbing kita dalam menata bata demi bata perjuangan ini, perjuangan tidak boleh terputus, terus.. terus.. terus.. Berjuang. “anak-anak saya ini ada yang pernah bilang, ‘Bu.., mestinya ganti nama, jangan PDI Perjuangan. Kenapa? Lha kok berjuang terus ya bu. Lalu saya bilang: Ya kalau ngak mau di sini ya keluar saja, memang itulah maksudnya. Kukuh, teguh, onward, never retreat, maju terus, pantang mundur, demi tercapainya Indonesia raya, Indonesia yang adil dan makmur, Indonesia yang makmur dan adil.

Terimakasih,

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam Damai Sejahtera Untuk Kita Semua

Om Swastyastu

Namo Buddhaya…

Merdeka!!!

Merdeka!!!

Merdeka!!!

Sabtu, 16 Desember 2017

Ketua Umum PDI Perjuangan

Megawati Soekarnoputri

Instagram

Twitter

Facebook