Please wait... X

Berita Islam dan Kaum Kebangsaan Terajut Tak Terpisahkan

PDI PERJUANGAN, 26/Sep/2017

Islam dan Kaum Kebangsaan Terajut Tak Terpisahkan

Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR RI Ahmad Basarah di hadapan kalangan profesional peserta Kursus Politik “Pancasila Jiwa dan Kepribadian Bangsa Indonesia” angkatan kedua menyatakan bahwa PDI Perjuangan adalah rumah besar kaum nasionalis yang menjadi titik pijak bagi semua orang dapat bergabung, berkumpul, dan menjadi anggota PDI Perjuangan. Tidak membedakan latar belakang agama, suku, warna kulit, profesi, status sosial, pendidikan dan latar belakang keluarga.

Latar belakang keluarga itu bisa saja yang masuk menjadi anggota PDI Perjuangan misalkan dahulu kakeknya, ayahnya adalah pejuang DI/TII. Bisa juga latar belakang keluarganya adalah pemberontak Permesta atau misalkan pula dari keluarga yang ayah atau kakeknya pendukung PKI, semua boleh bergabung ke dalam PDI Perjuangan.

“Akan tetapi harus diketahui, yang sebelumnya orang tuanya mempunyai ideologi-ideologi ingin mendirikan Negara Islam Indonesia atau Negara Kristen Indonesia, atau bahkan yang cita-citanya mendirikan negara komunis. Maka ketika sudah masuk menjadi anggota PDI Perjuangan, mereka wajib menyatakan talak tiga dengan ideologi-ideologi bawaannya itu. Karena untuk menjadi kader dan anggota PDI Perjuangan syarat mutlak adalah menjadi seorang nasionalis Sukarnois,” kata Ahmad Basarah di kantor DPP PDI Perjuangan Jl. Diponegoro 58, Jakarta Pusat, Minggu (24/09/2017).

Menurut Ahmad Basarah, jika selama ini ada anak PKI, ada tokoh Syiah, ada tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah masuk menjadi anggota PDI Perjuangan, mereka telah menyatakan komitmennya menanamkan nasionalisme. Kemudian, ideologi PDI Perjuangan berlandaskan azas Pancasila 1 Juni 1945. Pernyataan Pancasila 1 Juni 1945 ini menimbulkan perbedaan tafsir, seolah-olah Pancasila menurut PDI Perjuangan berbeda dengan Pancasila versi partai poliltik lain. Ahmad Basarah dalam bukunya berjudul “Bung Karno Islam dan Pancasila” menjelaskan, negara secara yuridis mengakui bahwa Pancasila lahir tanggal 1 Juni 1945 dan bersumber dari Pidato Bung Karno telah dinyatakan dalam Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila yang ditandatangani 1 Juni 2016.

“Keppres Nomor 24 Tahun 2016 pada pokoknya berisikan penetapan, yaitu: menetapkan tanggal 1 Juni 1945 sebagai hari lahir Pancasila, tanggal 1 Juni merupakan hari libur nasional, pemerintah bersama seluruh komponen bangsa dan masyarakat Indonesia memperingati hari lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni,” tulis Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan itu.

Jati diri PDI Perjuangan, lanjut Basarah, adalah memperjuangkan ajaran-ajaran Bung Karno. Menurut Bung Karno antara Islam dan kaum Kebangsaan seperti rel kereta api yang harus selalu berdampingan agar bisa mengantarkan penumpang ke tempat tujuannya. Namun kalau rusak salah satunya atau berpisah, maka bukan hanya kereta api itu tidak sampai mengantarkan ke tujuan, tapi bisa membuat penumpangnya jatuh. Antara Islam dan Kebangsaan telah terajut tak terpisahkan.

"Jika Islam dan Kebangsaan berdampingan dengan kokoh akan mampu mengantarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan segenap rakyatnya yang majemuk, baik dari aspek agama, suku, etnis dan antar-golongan akan sampai pada tujuan bernegara. Yaitu tatanan masyarakat yang subur makmur dan adil serta bahagia lahir batin atau Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur," kata Basarah disambut aplaus peserta kursus politik.

Dalam salah satu poin presentasi bertajuk “Pancasila dalam Perspektif Historis, Yuridis, dan Kebijakan Negara” Basarah menjelaskan bila Islam sebagai konstruksi awal pemikiran Soekarno dipengaruhi oleh para guru bangsa seperti Tjokroaminoto dan Achmad Dahlan.

“Tuhan amatlah bermurah hati saya. Pada waktu aku masih muda diberikanNyalah pemimpin-pemimpin yang utama: Tjokroaminoto, Tjipto Mangunkusumo, Achmad Dahlan...dan lain-lain semua mereka itu menanamkan pengaruh yang dalam pada jiwa saya yang dahaga. Terutama sekali Tjokroaminoto termasuklah salah seroang guru saya yang amat saya hormati. Kepribadiannya menarik saya dan Islamismenya menarik saya pula, oleh karena tidak sempit,” kutip Basarah dari buku “Bung Karno Putera Fajar”.

Sedangkan dari Achmad Dahlan, menurut Basarah, sejak usia 15 tahun Soekarno telah menangkap ajaran Islam dengan menghadiri tabligh-tabligh KH. Achmad Dahlan pendiri Muhammadiyah di berbagai tempat. Bung Karno dalam seminggu bisa tiga kali mengikuti tabligh di kota Surabaya, kemudian lain tahun masih beberapa kali lagi.

“Saudara-saudara, kok makin lama makin saya cinta kepada Muhammadiyah. Tatkala umur 15 tahun, saya simpati kepada Kiyai Achmad Dahlan sehingga mengintil kepadanya, tahun ’38 saya resmi menjadi anggota Muhammadiyah, tahun ’46 saya minta jangan dicoret nama saya dari Muhammadiyah: tahun ’62 ini saya berkata ‘moga-moga saya diberi umur panjang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jikalau saya meninggal, supaya saya dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah atas kain kafan saya’,” cuplik Basarah dari pidato Soekarno dalam Penutupan Muktamar Muhammadiyah, 1962. (Pram)

Instagram

Twitter

Facebook