Please wait... X

Berita Mengelola Keberagaman, Meneguhkan Keindonesiaan

, 19/Aug/2017

Mengelola Keberagaman, Meneguhkan Keindonesiaan

Presiden kelima Republik Indonesia yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menyampaikan gagasannya dalam Dialog Kebangsaan yang di selenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Selasa (15/8/2017).

Berikut ini pidato lengkapnya:

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Salam Sejahtera bagi kita semua 
Om Swastiastu 
Namo Buddhaya

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah mempertemukan kita dalam forum yang penting bagi kehidupan berbangasa dan bernegara. Sungguh merupakan kebanggaan bagi saya dapat berbicara kembali di acara yang diadakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau disingkat LIPI. Pertama saya ingin mengucapkan selamat kepada LIPI yang menginjak usia 50 tahun. Saya selalu antusias jika berbicara tentang ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan dan perkembangannya adalah penanda terhadap maju mundurnya sebuah bangsa, bahkan peradaban manusia secara umum.Tidak ada satu pun negara maju yang tidak ditopang oleh lembaga pengembangan ilmu pengetahuan yang kuat. 

Saudara-saudara, 
Jika saya ditanya, apa strategi Indonesia dalam menghadapi kompetisi dan tantangan domestik, regional dan global? Jawaban saya adalah perkuat lembaga penelitian dan ilmu pengetahuan negara. Penelitian penting sekali untuk pembangunan suatu negara.Penelitian yang luas dan intensif diperlukan untuk menggali dan mengoptimalkan sumber-sumber kekayaan alam, serta mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari penggalian itu secara sempurna. Penelitian-penelitian yang harus menjadi prioritas saat ini adalah di bidang sandang, pangan, perumahan, industri berat, industri kimia dasar, pertambangan, penduduk, tenaga kerja, pendidikan, kesehatan, distribusi dan komunikasi, pertahanan dan keamanan negara, serta mengenai efisiensi aparatur negara. Sekurang-kurangnya harus ada penguatan terhadap tiga jenis penelitian, yaitu penelitian dasar (basic research), penelitian terapan (applied research) dan penelitian pengembangan (development research).

Saudara-saudara,
saya selalu memimpikan dan memperjuangkan agar Indonesia memiliki suatu lembaga penelitian yang kuat yang terkoneksi dengan berbagai universitas dan perguruan tinggi yang ada di tanah air. Saya mendukung agar pemerintah dan legislatif dapat membuat keputusan politik anggaran yang berpihak kepada lembaga-lembaga penelitian dan ilmu pengetahuan. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah dilakukannya reorganisasi penelitian nasional. Saya mendukung agar LIPI difungsikan secara serius sebagaiLembaga Riset Nasional, yang memiliki kewenangan untuk mengawasi, mengkoordinasikan, dan menstimulasi seluruh penelitian, termasuk penelitian swasta. Dukungan politik penting agar LIPI mampu menjalankan tugas, yaitu: pertama membimbing perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama yang berakar di Indonesia agar dapat dimanfaatkan oleh rakyat Indonesia, dan umat manusia pada umumnya.  Saya mengapresiasi LIPI yang telah menghasilkan penelitian bahasa-bahasa lokal, sebagai bagian dari penyelamatan terhadap bahsa lokal yang hampir punah. Tugas keduaadalah mencari kebenaran ilmiah, dimana kebebasan ilmiah, kebebasan penelitian, serta kebebasan mimbar diakui dan dijamin, sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Saya mendukung agar LIPI mendapatkan ruang yang lebih besar agar dapat memberikan masukkan kepada pemerintah, terkait penelitian yang dapat memperkuat kebijakan program pembangunan. Sehingga ke depan Indonesia memiliki suatu panduan dalam politik pembangunan yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah, maupun kegunaannya. Karena dengan berbasis pada penelitian, suatu kebijakan pembangunan dapat lebih akurat, terarah dan tepat sasaran. Sudah saatnya Indonesia memiliki strategi pembangunan yang benar-benar terencana, jelas tahapan-tahapannya hulu tengah dan hilir, serta mencakup seluruh sendi kehidupan masyarakat, dengan tidak meninggalkan karakter bangsa Indonesia.

Saudara-saudara,
Semua penelitian dan penggunaan hasil penelitian harus didasarkan pada kepentingan Nasional. Kepentingan Nasional kita adalah mencapai Indonesia yang sejati-jatinya merdeka. Cirinya adalah dengan terwujudnya keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Itulah sesungguhnya cita-cita dan tujuan Proklamasi 17 Agustus 1945.

Hadirin yang saya hormati,
Dua hari lagi, Republik kita tercinta ini akan menginjak usia yang ke 72 tahun. Berbagai tantangan acapkali menghadang. Namun, Alhamdulillah sistem ketatanegaraan Kesatuan selalu dapat kita selamatkan. Hingga hari ini kita masih dapat menghirup kehidupan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Dasar Negara Pancasila. Dasar negara yang sudah final, tidak perlu diperdebat-debatkan lagi, jika mengaku sebagai rakyat dan bangsa Indonesia!

Berbagai ujian terhadap kebhinekaan Indonesia pun acapkali terjadi.  Ada pergerakan yang sangat sistematis yang dengan sengaja membuat timbulnya pertentangan-pertentangan yang semakin meruncing dan menjadi terlalu menajam. Hingga akhirnya kita larut dan tidak berfokus pada hal-hal yang semestinya kita perjuangkan untuk kesejahteraan rakyat. Hal tersebut adalah kelengahan kita bersama. Saatnya kita semua menyadari adalah suatu tindakan “bermain api” dan suatu kesalahan besar, bagi siapapun, yang terlalu meruncing-runcingkan dan menajam-najamkan perbedaan. Apalagi dengan tujuan hanya untuk kepentingan kekuasaan politik bagi segelintir orang atau kelompok. Terlalu besar hal yang digadaikan, jika keberagaman Indonesia yang merupakan anugerah Illahi dipertaruhkan. 

Di dalam mencari jalan yang hendak kita tempuh, kadang kita menjadi tidak awas dalam melihat inti persoalan, karena mata kita telah diselaputi oleh nafsu-nafsu ingin menang bagi golongan sendiri, ingin menang bagi faham sendiri. Akibatnya kita menjadi terlalu jauh dari cita-cita Proklamasi dan terlalu jauh menyimpang dari dasar negara, yaitu Pancasila.

Namun, sekali lagi syukur kepada Tuhan, bahwa pada saat-saat seperti itu mayoritas dari bangsa Indonesia masih diberikan kesadaran untuk tetap setia pada Pancasila, sehingga nafsu pertentangan dapat diredakan. Hal ini membuktikan bahwa di dalam Pancasila terdapat suatu sumber kekuatan regenerasi, kekuatan untuk terus bertumbuh kembali, kekuatan untuk mampu melintasi lautan kesulitan. 

Saudara-saudara,
Demokrasi Indonesia memang belum sempurna. Namun, dengan tetap berpijak pada Pancasila kita tidak pernah berhenti untuk menemukan irama dan bentuk demokrasi kita sendiri. Kita akan terus memperjuangkan demokrasi Indonesia yang mengandung suatu elemen-elemen khusus yang tidak ada pada demokrasi barat. Elemen khusus ini merupakan warisan dari tradisi jiwa bangsa Indonesia, yaitu jiwa gotong royong dan musyawarah dalam suasana kekeluargaan. Cara-cara demokrasi yang menggunakan ukuran “setengah plus satu” adalah pemenang, jelas bertentangan dengan jiwa kebangsaan kita. Jiwa gotong royong dan jiwa musyawarah adalah jiwa kekeluargaan, jiwa perpaduan, jiwa sintesa. 

Pada pidato politik 17 Agustus 1953, Bung Karno mengingatkan kita semua, “Aku minta kepada semua pemimpin bangsa untuk memahami jiwa bangsa ini sedalam-dalamnya, dan mengamalkan sebaik-baiknya. Dalam irama jiwa musyawarah yang mencari sintesa atau perpaduan ini, janganlah hendaknya kita-antara-kita menarik garis-garis demarkasi seolah-olah berkata: “ini golonganku, itu golonganmu,” – “sini tempatku, sana tempatmu!” Demikian itu bukan irama yang mencari perpaduan atau sintesa, melainkan irama yang memisah-misahkan, irama antitesa dan antagonisme. Demikian itu bukan Demokrasi Indonesia.”

Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini, sekali lagi selamat ulang tahun yang ke 50 tahun untuk LIPI. Jadikanlah ilmu pengetahuan sebagai jalan pengabdianmu bagi kepentingan rakyat, bangsa dan negara!

Terima kasih,
Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Salom,
Om Santi Santi Santi Om.

 

 

Instagram

Twitter

Facebook